Panjatan News - Pemerintah kalurahan (Pemkal) di wilayah Kapaewon Panjatan diharapkan agar berupaya untuk mengoptimalkan Pendapatan Asli Desa (PAD). Optimalisasi bisa dilakukan dengan memaksimalkan sumber-sumber PAD yang sudah ada atau menambah sumber PAD baru sesuai dengan potensi masing-masing kalurahan.
Harapan tersebut disampaikan Kawat Praja Kapanewon Panjatan Sugiyana SIP di ruang kerjanya, Jumat (29/7). Pernyataan tersebut disampaikan Sugiyana berkaitan dengan telah selesainya pelaksanaan kegiatan pembinaan dan pengawasan (Binwas) administrasi keuangan, penatausahaan aset dan realisasi Pajak Bumi dan Bangunan Perkotaan dan Perdesaaan (PBB P2) di 11 kalurahan di wilayah Panjatan.
Relatif rendahnya PAD, tambah Sugiyana, menjadi masalah yang cukup krusial bagi pemkal. Memang, kata dia, sumber PAD masih sangat terbatas, karena hanya mengandalkan hasil sewa tanah kas desa. Untuk sumber lainnya seperti dari BUMDes juga masih sangat kecil.
Menurut Sugiyana, sewa tanah kas desa masih menjadi sumber PAD bagi seluruh pemkal. Namun demikian, di beberapa kalurahan luas tanah kas desa relatif kecil dan harga sewanya pun cukup murah. Masih ada yang harga sewanya per meter persegi di bawah Rp 1.000,- per tahun, ungkapnya.
Harapan yang sama diungkapkan oleh staf Jawatan Praja Suprih Rohmadi. Menurut mantan Carik Bugel ini, pemkal harus lebih serius dalam mengembangkan BUMDes guna peningkatan PAD. Antara lain, dengan mendorong BUMdes agar mengembangkan usaha yang berorientasi bisnis, kata Suprih, Rabu (27/7) saat pelaksanaan Binwas di balai kalurahan Garongan.
“Saat ini sebagian besar dana BUMDes masih digunakan untuk kegiatan simpan pinjam. Pemkal perlu mendorong BUMdes untuk mengembagkan usaha yang lebih menguntungkan, seperti toko kelontong. Kalau hanya untuk simpan pinjam keuntungannya sangat kecil. Sehingga kontribusinya terhadap PAD akan kecil pula,” tandas Suprih.